Rabu, 28 November 2007
pesona yang mencerahkan
aku bukan bermaksud membawamu menerawang pada sesuatu yang absurd..
aku hanya ingin berbagi energi cinta denganmu..
kecintaan yang semata-mata hanya diorientasikan kepada sang maha pemilik cinta..
tapi aku sadar sepenuhnya bahwa mustahil bagiku menghadirkan karakter pahlawan sejati itu tanpamu.. yang senantiasa hadir meneguhkan langkah yang goyah..
asa yang terkadang pudar..
bertarung ditengah jalan panjang yang penuh onak dan duri..
saksikanlah duhai pesona yang mencerahkan..
duhai mata air inpirasi..
biarkan ketulusan ini mengalir apa adanya..
karena aku telah mengikhlaskan segalanya..
aras perubahan
perubahan besar itu hanya mampu diwujudkan oleh pribadi-pribadi dengan karakter kuat..
dengan kepala tegak dan suara lantang ia akan katakan bahwa hitam adalah hitam dan putih adalah putih..
'aras perubahan'
yang tertata dengan sistematis,
terjaga dengan komitmen,
termotivasi oleh tujuan yang visioner,
dan terlaksana dengan keimanan yang murni..
'pesona' cahaya
kudapati ia begitu lembut berjalan..
cahayanya remang-remang..
menyinari angkas membentang..
kunanti kala perjumpaan datang..
sementara kerinduanku pada pesona cahaya kian menerjang..
Jumat, 09 November 2007
williem iskandar 1C
Sembilan tahun berlalu.., dan hampir 5 tahun aku tak pernah berkunjung lagi kesana. Bersua dengan semangat menjadi yang terbaik. Bahkan term "science and religion just we can combine" masih terngiang jelas. Pemaknaan bahwa kami (anak-anak) MAN bukanlah siswa kelas dua, sarungan, peci-an, atau apalah dengan makna under estimate, cuma bisa ngaji dan ceramah. Fakta tentu bicara lain. Diaspora alumni-alumni memang luar biasa. UI, ITB, UGM, UNAND, UNDIP, IPB, UNILA dan USU bukanlah kampus-kampus yang sulit untuk ditaklukkan.
Jayalah MAN 1 Medan. Kerinduan ini belum terbalas hingga kini..
Orang Yang Tak Memiliki Tak Akan Bisa Memberi
Konflik politik DPRD dan Gubernur Lampung belum juga menemui jalan kompromi. Pascapertemuan kedua pihak dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sama sekali tidak tampak arah menuju rekonsiliasi. Dan, seperti biasa, pusat pun membiarkan kasus Lampung ini tetap mak jelas (tidak jelas). Ketua KAMMI Daerah Lampung Samsir Afiat berpolemik soal itu.
Orang Yang Tak Memiliki Tak Akan Bisa Memberi
Samsir Afiat
Ketua KAMMI Daerah Lampung
Berkuasa berarti kesempatan untuk kaya, terkenal, disanjung, ditunggu titahnya, dan seterusnya. Berkuasa juga bisa diartikan kesempatan mengelola, mengoptimalkan "kekuasaannya" untuk menyejahterakan yang dikuasainya. Penting memang memahami arti kekuasaan. Salah mengapresiasi kekuasaan berarti menggali kubur sendiri. Sebab itu, kekuasaan menjadi sesuatu yang "ditakuti" dalam Islam. Berkuasa berarti mengambil sebagian kecil "peran" Tuhan di muka bumi.
Dalam sejarah kemanusiaan, terhampar ratusan manuskrip kekuasaan dengan segala dinamika. Kejayaan, kemunduran, kejatuhan bahkan kehancuran kekuasaan dengan gamblang terurai dan memenuhi lembaran-lembaran sejarah di perpustakaan-perpustakaan kita. Kita disadarkan ternyata selain persoalan fundamental, penyebab kejatuhan itu adalah kekuasaan Tuhan. Sisi kemanusiaan yang menarik dikaji adalah kesalahan mengelola kekuasaan disebabkan kesalahan mengelola kepentingan, tuntutan, dan kehendak yang dikuasainya. Tidak berlebihan kiranya jika bersungguh-sungguh menjalankan amanah asasi rakyat adalah syarat berhasilnya penguasa.
Persoalan yang sering luput dari perhatian adalah kearifan dan kedewasaan berpolitik. Kearifan dan kedewasaaan dapat dimaknai sebagai kemampuan mengelola emosi, kehendak, syahwat, dan kemampuan meletakkan kepentingan orang banyak jauh di atas kepentingan diri sendiri. Sehingga yang senantiasa terpikir sebelum "merebut" kekuasaan dan setelah berkuasa adalah kalkulasi kemampuan dan kapasitas diri untuk menanggung beban serta melaksanakan amanah banyak orang. Dengan demikian, kewaspadaan, kecermatan, dan kehati-hatian menjadi rutinitas yang menyenangkan karena dilandasi kecintaan dan pengabdian untuk memajukan bangsa.
Mengurai benang kusut tidaklah mudah. Asal ada iktikad baik, setiap kita bisa mengambil peran menuntaskan masalah ini. Runutlah dari awal.
Jelaskan dengan gamblang apa yang terjadi pada Desember 2002 itu, ada tidak tahapan yang terlangkahi dari proses yang harusnya dilalui dalam mekanisme sidang di gedung Dewan itu, jujurlah mengatakan berapa banyak "gizi" yang dikeluarkan dalam perhelatan itu? Sampai kemudian Jakarta mendelegitimasi, helikopter meraung di angkasa Lampung. Dan kemudian digelarlah perhelatan babak kedua yang tidak kalah seru dan menyimpan misteri yang kurang lebih sama. Pantaskah rakyat yang menanggung beban ini?
Kita butuh hakim. Ya, harus ada wasit dalam hal ini. Manusiawi dan solutif. Dan jika kita memang sudah mengamanahkan di pundak mereka untuk memutus perkara ini, hal yang paling bijak adalah mematuhinya. Jika tidak, apakah kita siap "bergulat" terus sampai kiamat? Ketidakpuasan selalu datang belakangan, tidak salah jika menuntut penguasa yang lebih tinggi segera mengeksekusi karena bisa jadi akan menyelesaikan persoalan. Jika tidak, mungkin tawaran ini yang paling bernas; pemilihan lagi aja.
Berkuasa atau tidak berkuasa, tidaklah penting. Yang terpenting adalah apa kontribusi kita pada kehidupan tanpa ada status berkuasa atau tidak berkuasa itu. Jalankan peran dan tugas kemanusiaan kita dengan optimal dan biarkan manusia dan Tuhan yang menilai apakah kita layak diberi penghargaan. Sekali lagi, jalankan peran dan tugas kita, bahaslah APBD itu, laksanakan tugas sebagai eksekutif yang baik agar kita tidak menyesal di belakang hari. Toh, berkuasa atau tidak berkuasa tidaklah penting.
Namun, jika masih tetap mengedepankan egosentrisitas pribadi dan golongan tanpa pernah mau memahami makna kemaslahatan, ya tidak ada pilihan, mundur saja dari pejabat publik dan jadilah pejabat pribadi dan golongan. Sebab, bisa jadi kegagalan memimpin orang banyak karena kegagalan memimpin diri sendiri.
Akhirnya, menjadi berkuasa dan terkenal itu tidak segampang yang dibayangkan. Sebab, tabiat jelek orang yang berkuasa dan terkenal adalah lupa bersyukur. Dan lupa peran serta orang lain dalam menggapai kesuksesannya. Rajinlah memberi, apa saja, tidak harus materi. Toh sejarah kepahlawanan menunjukkan kepada kita, harapan perubahan yang didukung visi yang jelas serta kekuatan tekad mewujudkannya jauh lebih ampuh mengajak orang dibanding memberi materi yang hanya lewat sekejap mata.
Tetapi, untuk memberi tidaklah gampang. Harus punya modal, bahkan menguras tabungan. Tentunya modal kebaikan dan tabungan kebaikan. Sebab, orang yang tidak memiliki tidak akan bisa memberi.
Lampung Post (Jumat, 20 Januari 2006)